Ada Apa dengan (alumni) ITB??

Monday, 12. 10. 2007  –  Category: Kuliah, Skandal

Masih ingat dengan kasus surat tanda lunas bermasalah yang kutulis di postingan berjudul Ada Apa dengan UGM kan? Alhamdulillah untuk sementara masalah itu memang sudah selesai setelah orangtuaku diminta membuat surat pernyataan telah melunasi pembayaran SPMA. Akan tetapi, di balik postingan itu, ada satu cerita yang cukup merangsang hasratku untuk menuliskannya ke dalam blog ini..

Tidak berapa lama setelah tulisan itu kupublish, beberapa anak ITB kenalanku memberikan komentar yang kurang lebih sama setelah membacanya; Nggak terima kalo ada perguruan tinggi di Indonesia yang dianggap lebih baik daripada ITB tercintanya…

Heran juga, padahal substansi tulisan itu gak ada hubungannya dengan UGM yang lebih baik daripada ITB atau sebaliknya. Kalaupun ada data dari THES-QS World Top University Rangkings 2007 yang kucantumkan hanyalah sebuah fakta yang kugunakan untuk menggambarkan betapa ironisnya kasus yang kualami ini; disaat ada lembaga independen internasional yang menyatakan UGM sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia kok bisa-bisanya mahasiswanya yang mau lulus dipersulit oleh birokrasi karena buruknya administrasi pencatatan pembayaran SPMA..

Tak lama sebelum itu, aku dan teman-teman Nightlogin di lab IF TE UGM kedatangan tamu dosen kami yang sedang menuntut ilmu di Mali.. eh Malaysia dan kebetulan baru libur sehingga bisa pulang ke Jogja. Dalam pertemuan 1-2 jam tersebut, beliau bercerita banyak hal.. mulai dari cerita tentang kondisi di Malaysia, seputar dunia beasiswa, lapangan pekerjaan.. hingga sampai suatu ketika beliau bercerita tentang rekan-rekannya sesama orang Indonesia di Malaysia sana.. beberapa diantara mereka adalah lulusan ITB yang menurut beliau begitu bangga akan ke-ITB-annya, tak seperti dosenku & beberapa temannya sesama alumni UGM disana yang cenderung tak sebegitunya dalam hal kebanggaan menjadi alumni UGM.

Masih menurut dosenku itu, rekan-rekannya alumni ITB itu tak jarang membangga-banggakan almamater mereka di hadapan beliau dan rekan-rekannya yang lain, ditambah lagi mereka begitu rajin mencari dan menyebarkan hasil survey atau perangkingan perguruan tinggi dari lembaga mana saja yang menempatkan ITB sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia. “Kadang-kadang bikin mangkel juga, tapi biarin aja lah.. lha wong kita sudah maklum emang tabiat mereka seperti itu..” begitu kira-kira tanggapan dosenku atas hal tersebut.

Kembali ke postinganku sebelumnya, salah seorang pengunjung yang mengaku sebagai lulusan UGM dengan id srintil memberikan komentar yang isinya begini

…Kalo menurut gw sih baik itb ma ugm sama aja gak bagusnya, he..he..Lulusan itb banyak jadi politisi dan birokrat di bumn. Hasilnya? Ya liat sendiri aja deh. Ekonomi makro jadi dodol, pertumbuhan mandeg (oxymoron -> pertumbuhan kok mandeg? he..he..), monopoli, miskin daya saing dan kualitas buruk.Udah gitu lulusannya juga pada chauvinis, merasa terbaik (atau pengen dianggap terbaik? weleh, capee dee. Hari gini gitu loh, informasi dah gampang diakses bro..) Lulusan ugm banyak jg jadi birokrat, terutama di pemerintahan daerah dan pusat. Akibatnya? sama aja, bobrok juga yak.. he..he. Mental birokrat bergaya priyayi bikin capek aja, gak produktif….

Weleh weleh.. setelah baca komentar inilah hasrat nge-blogku menjadi-jadi.. sampai-sampai kerjaan nulis skripsi yang telah masuk pembahasan di Bab 4 pun terhenti karenanya.. Emang bener ya?? Lulusan ITB emang sebegitu bangganya sama almamaternya? Sampai-sampai ada orang yang bilang kalo itu sudah masuk kategori “chauvinisme”..

Tulisan ini tidak kumaksudkan untuk memicu perdebatan yang isinya kurang lebih semacam ini;

“ITB lebih baik! Enggak.. UGM yang lebih baik! Salah.. sampai kapanpun ITB tetap yang paling baik! Nggak bisa.. pokoke UGM yang paling baik.. ITB!! UGM!! ITB!” ~ halah kok malah ribut sendiri.. ^_^!~

Sekali-kali tidak!!

Tulisan ini kubuat akibat adanya fenomena yang kutemui di lapangan bahwa indikasi semacam itu memang ada.. Meski demikian, generalisasi tidaklah layak dilakukan.. artinya, terlepas dari semua fenomena yang kutemui.. tetaplah tidak layak untuk menyatakan semua alumni ITB itu “chauvinis”.. namun setidaknya fenomena-fenomena itu membuatku cukup layak untuk bertanya..

Ada Apa dengan (alumni) ITB??

ps: Bagiku pribadi, entah UGM maupun ITB punya kelebihan sendiri-sendiri.. dan silakan keduanya berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.. bukan untuk membanggakan status dan membuat alumninya bertepuk dada.. “Ini lho.. alumni Universitas Terbaik di Indonesia”.. bukan!! Melainkan untuk berfastabiqul khoirot.. berlomba-lomba menghasilkan produk-produk yang memberi sebesar-besar manfaat bagi bangsa ini. Bukankah Kanjeng Nabi SAW pernah menyatakan bahwasanya “Khoirunnaas Anfa ahum linnaas” Sebaik-baik manusia adalah yang memberi paling banyak manfaat bagi manusia yang lainnya.

32 Responses to “Ada Apa dengan (alumni) ITB??”

  1. rommy Says:

    hohoho, sampe segitunya..weleh-weleh..

    buat saya yang penting ada pada individunya, dan seberapa besar kita menjadi seseorang yang bermanfaat, karena dari hal tersebut akan membawa dampak positif yan g besar.

    mari para engineer (mesthinya bersaing di bidang engineer kan ya, ITB ndak punya fakultas lain) berlomba-lomba untuk berbuat hal-hal positif demi kemajuan yang berarti.

    Indonesia sudah terlalu banyak ekonom..dan orang-orang oportunis yang ngga bisa berbuat apa apa..

  2. raf03 Says:

    @rommy
    punya rom.. ada fakultas seni lho di ITB.. kayaknya masih ada fakultas lainnya juga..

  3. HaTTa Says:

    Yup … yang penting jadi orang yang berguna … ha ning nek berguna nggo korupsi yo podho wae =p

  4. Dewi Pramudi Ismi Says:

    Hmm,, sebenarnya menurut saya ada beberapa hal yang sangat mungkin menyebabkan alumni ITB sangat bangga pada alamamaternya seperti,
    Pertama, passing grade SPMB
    Kedua, hasil survey2 ranking2 PTN di Indonesia gitu
    Ketiga, kenyataannya, orang suka memuji-muji mahasiswa ITB, ini bukan sok lo,, tapi memang kenyataan kayak gitu ya gimana anak ITB gak gede kepala? (bukan berarti pembelaan juga)

    Eh menurut saya, sebenarnya UGM ga kalah ama ITB, cuman masalahnya ada di lokasi menurut saya,, Bandung lebih deket ke Jakarta,, ngaruh ga ya? Tapi kayaknya emang sangat berpengaruh,, Kalau ada apa2 Bandung lebih cepet nerima info,,
    Kata salah seorang alumni, sebenarnya kapabilitas alumni UI, ITB, ama UGM ga jauh beda,, cuman anak UI ama ITB lebih pede dan gaul,, * make sense?

    Mungkin di luar, alumni ITB kelihatan bersatu [dalam kenarsisan] ya? Padahal waktu masih jadi mahasiswa saling membangaakan jurusan sendiri2, contohnya nih Informatika ama Elektro, saling merasa lebih baik satu sama lain..dari dulu sampai sekarang,,

    Intinya,, sebenarnya masalahnya adalah pada KARAKTER MANUSIA nya tapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan,,

  5. budi Says:

    sebenarnya itu belum seberapa…….
    kalo di tempat kerjaku dulu…..mereka lebih parah lagii, cuman itu tidak berlaku buat alumni ITB yang aktif di kegiatan pengajian…..selain itu, wuihhhh ngeri….
    apalagi kalo ngomongin tentang salah satu PTS di yogya…..di tempat kerja sekarang juga gitu…, untung aja atasanku alumni UGM he…he…he…

  6. darno(modarokono) Says:

    ternyata sama juga saya baru tahu kalo lulusan universitas sampai segitunya,soalnya yg saya alami hanya pada tingkat anak2 pondok pesantren(khususnya solo)biasanya pada mbanggakan soal beladiri (sering diadakan pertandingan juga,menurut saia semuanya bagus)padahal oleh ustadnya tidak diajarkan demikian(saling bangga),tapi ada tuh dua dosen saia yang satu dari ITB dan satu dari ITS mereka biasa aja malah waktu tak tanya bagus mana sih jawabanya hampir sama,podo wae mas orang itu belajar dimana saja sama asal dia bisa faham apa yang dipelajari(karena sebenarnya tiap universitas sudah berstandart bagus)saia yg kuliah di salah satu polteknik di kota saia gak pernah bangga(karna memang gak ada yg bisa dibanggakan :) )tapi ada sedikit bangga saat teman kuliah satu jurusan dengan saia ditangkap densus88 karena dituduh terlibat kasus terorisme(di culik ke jakarta dan dihajar habis karena tak cukup bukti akhirnya di pulangkan setelah 2 minggu ilang)padahal kami cuma mahasiswa yg aktif pengajian,akhirnya dia tak melanjutkan kuliahnya padahal sedang ngerjakan TA,maksud saya bangga di sini adalah sebagai pemuda yg “diakuti” akan berbuat sesuatu oleh aparat/penguasa karena intervensi pihak asing padahal kami hanya melakukan sesuatu yang benar(menuntut ilmu dunia& akhirat pada waktu bersamaan)
    sekian.

  7. adit Says:

    welweh…..weleh……….
    Zamnan gene masih terjebak kebanggaan kelompok aza.
    ayo kita buktikan bahwa kita dapat membuat indonesia tercinta ini bangga, karena pada saat ini semakin sulit mencari sesuatu yang bisa dibanggakan di negeri ini.
    ITB, ITS, UGM podho wae……………………..
    membanggakan institusi akan memalukan bila tidak ada yang membanggakan pada diri sendiri.

    Bravo indonesia Raya

  8. ujang Says:

    oh… tentu saja beda mas lulusan ITB sama UGM, untuk Engineering kalau mau di rangking ITB, ITS, UI ,…, …, …, UGM. ciri utama lulusan UGM ya.. Tahan menderita, tak tahu malu dan rela menjilat pantat atasan biar ke pake. Saya pernah bekerja di 5 perusahaan mulai BUMN sampai Swasta (kalau multinasional company jarang saya temui anak UGM karena mereka sudah tahu kwalitas lulusannya) ya… ciri-cirinya mirip seperti diatas… tapi kalau non Engineering saya ndak tahu ……

  9. darno(modarokono) Says:

    ah yang bener kang ujang
    awas kompor-kompor!!!!!!

  10. rifu Says:

    ahaha, hm, ngomongin alumni ya? yah, saya ngasih sudut pandang dari yang masih mahasiswa deh..

    ITB? terbaik? darimana? ujian masih nyontek kok..

    *sarcasm mode on*
    sekali lagi? terbaik? (I)tu (T)uh (B)o’ong.. :twisted: bukannya terbaik, adanya (I)nstitut (T)erlalu (B)angga.. :P *sarcasm mode off*

    ya, tp ga bisa generalisasi juga. ga semua kaya (terlalu berbangga diri) gitu kok. banyak anak ITB yang juga kritis, kalo ga sarkas, terhadap waham kaya gini. nyontek, yang saya bilang di atas, ga bisa menjadi satu2nya parameter, meski memang sih itu indikator kejelekan paling gampang.

    on the positive side, semoga perasaan (I)nstitut (T)erbaik (B)angsa yang seperti itu malah menjadi pecut untuk membuktikannya dengan karya nyata :mrgreen:
    Arief Nugroho
    Teknik Kimia ITB 2004 (13004074)
    pindah ke Mikrobiologi ITB 2005 (10404501)

    *lirik atas*
    wah, ada mas Hatta..

  11. raf03 Says:

    @Hatta
    yup.. bener banget, percuma jadi alumnus universitas terbaik sedunia pun kalo cuma jadi koruptor!

    @Dewi
    sepakat! memang semuanya kembali ke masing-masing individu yang bersangkutan, tapi tetap saja lingkungan memberi pengaruh yang sangat besar. Karenanya kita harus benar-benar bisa mencari lingkungan yang baik bagi kita. Dimanapun itu, entah di UGM atau di ITB pasti ada komunitas mahasiswa baik-baik dan juga ada komunitas mahasiswa -maaf- BRENGSEK.

    @Budi
    kalo orang pemahaman agamanya baik insyaALLAH perilakunya juga baik, ndak peduli dia alumni UGM, ITB, atau bahkan sekedar lulusan SD sekalipun.. :)
    @darno
    yang namanya ashobiyah (chauvinisme) itu ada dimana saja mas.. ya ashobiyah almamater lah, ashobiyah suku lah, banyak hal deh yang bisa bikin orang punya sifat ashobiyah..

    @adit
    betul!! gak ada gunanya berlindung dibalik nama besar almamater kita. salah-salah yang ada malah bikin malu diri sendiri sekaligus bikin malu almamater kita. :D
    @ujang
    wah.. anda salah tempat mas, saya ndak akan terprovokasi oleh omongan gak jelas dari orang gak jelas seperti anda.. lha wong situsnya aja palsu kok. (apa malah bener situs ujang.com yang isinya link gak karuan itu anda yang punya?? kalo iya justru semakin memperjelas orang kayak apa sih anda itu :mrgreen: )

    @rifu
    sama dong.. di UGM juga masih banyak lho yang nyontek waktu ujian, gak cuma itu.. ada juga mahasiswa yang cuman ngikut nebeng nama kalo ada tugas kuliah, ada juga yang kerjaannya cuma kopas tugas kuliah temennya, titip absen??.. yang ini apalagi!!
    pokoknya, banyak banget deh “prestasi” lain dari Universitas & Institut Teknologi yang katanya terbaik di Indonesia ini yang belum kesebut.. :mrgreen:

  12. roy_banget Says:

    lulusan ITB/UI/UGM hehehe podo wae, mau lulus PNS tetep musti ada antek dari dalem kok hehehe gak percaya buktiin aja,

  13. iqb@l Says:

    huwalah… koyo ngono wae dadi debat panjang yo Raf…
    Beidewei aku juga pernah denger sih di pertamina ada ’sedikit’ ato banyak ya kasus yang kadang-kadang menghambat karier pekerjaan antara lulusan UGM oleh ITB dan sebaliknya, ITB oleh UGM. wallahu a’lam benernya gimana…
    Tapi yang kaya’ gini ga usah didebatkanlah… lebih baik kalo kita memperbaiki dirisendiri sehingga akan muncul fastabiqul khoirot tadi itu…
    Ho oh ora Raf? :-)

  14. beben Says:

    apa-apaan nih…ITB bagus cuman jman dulu sekarang udah enggak…
    masuk ITB sekarang mah..Gampang…
    Tinggal bayar…beres…

  15. andro Says:

    iseng aja pas lagi cari avatar, eh malah jadi masuk ke blog ini….itb ato ugm keduanya sama2 bagus. itb ada bagus dan kurangnya, pun demikian itb. aq rasa ga apple to apple bandingin itb ama ugm, meski keduanya sama2 ngaku “anak gajah”. kan yg satu institut yg satu universitas,kalo mw fair komparasi harusnya dilakukan hny pada jurusan yg ada di ke2 kampus tsb. kalo bahas “arogan/chauvinist” ya ga ugm, itb, ui, ada aja yg arogan. malah dulu saya pas sma pny pendapat “kalo ga kul di ui/ugm/itb, bukan kul namanya”..he3x…lucu. Yg penting bersatu, majuin tanah air kita ini

  16. lambrtz Says:

    Wis to, pokoke biar bagaimanapun juga harvard tetep paling baik :))

  17. lambrtz Says:

    trackbackku kok ra tekan yo…
    ya wis numpang promosi..

    http://lambrtz.blogsome.com/2008/02/06/be-aware-please/

  18. yuni Says:

    lah IPB ko ga di sebut hihihhih……*maunyaaaa…:)

  19. yani Says:

    Yah, memang gitulah, selalu terjebak kebanggaan semu, saya lulusan dari daerah, pernah satu sekolah waktu S2 di Jpn dengan anak ITb, UGM, UI dan ITS, sekarang lagi lanjutin S3 di tempat yang sama, pertama kenalan sama mereka minder juga sih, tapi setelah lama bergaul, ehh ternyata yah sama aja, kalau ada tugas mereka masih tanya tuh sama anak daerah ini, bahkan suka nyalin, apa ini yang patut dibanggakan, walau awalnya nggak diaggap gitu, biasa dari daerah luar jawa, dianggap nomor kesekian lah (nomor berapa yah, 10, 20 atau 100), Alhamdulilllah masih dapet nomor utut juga he he he. sebenarnya tergantung orangnya tuh. Bukan asal sekolahnya.

  20. Irvan M Tanjung Says:

    Tidak ada gunanya debat seperti ini. Ini cuma romantisme saat kuliah dulu. Yang penting anda bisa membuktikannya di dunia kerja. Memang ada anggapan umum lululan PTN favorit cenderung untuk diminati di dunia kerja. Itu salah satunya adalah berkat hubungan alumni yang tercipta dengan baik, dan juga karena ,umumnya, kemampuannya yang diatas rata2. Proses seleksi yg ketat saat masuk PTN - tentunya ada juga jurusan di PTN favorit yang kurang diminati - adalah salah satu modal untuk mendapat lulusan yang berkualitas.
    Pemeringkatan top universities oleh lembaga internasional gak sekali ini aja. Sebelumnya saya pernah lihat versi-versi lain yang menampilkan urutan yang berbeda.Untuk Indonesia, bisa jadi UI yang teratas, lain waktu bisa ITB, kadang juga UGM. Bagi saya, lebih penting untuk melihat seberapa besar kontribusi anda untuk lingkungan anda, baik dunia kerja, atau kehidupan sosial anda.

    Irvan
    Alumni FEUI

  21. Maju Indonesia!!! Says:

    Wah.. mas2 sibuk urusin almamater… saya setuju tuh sama mas2 yang lebih cinta memajukan tanah air. Perbaikin diri sendiri dulu kalo liat orang lain ga bener!! Yang perlu sekarang, kita bekalin diri kita buat memajukan diri dan tanah air kita ini. Mari bersatu buat mengurangi bule2 ga berguna, yang cuman nyuri ide orang aja!! Ok2.. So, Ayoo majukan bangsa sendiri.. Jangan biarkan orang asing yang memanfaatkan sumber daya kita sendiri.. Kalo emang ngaku jago Teknologi or ilmu apapun , BUKTIIN doong… Implementasi..
    Wassalam

  22. RONIta Says:

    wah asyik nih temanya ngomongin…dah bukan rahasia kalo di indo ini kebanyakan emang pada suka membanggakan kelompoknya termasuk bangga ama almamaternya…kalo bagi saya itu semua adalah omong kosong ketika hanya menjadi hal yg berlebihan dan tidak bermakna bagi orang lain..untuk apa sih bangga kalo hanya menjadi budak kapitalisme negara lain…mau ITB mau UGM atau UI kebanyakan masih terjebak pada pola ini..lulus cari kerja di perusahaan multinasional..yg penting dapat gaji gede..trus disana ketemu ama mantan senior atau se-almamaternya..akhirnya pada bangga2an..ya begitu aja bisanya…tak pernah memikirkan nasib rakyat…dulu waktu mahasiswa suka sok demo bela kepentingan rakyat tapi dah kerja lupa ama rakyat..yg dipikir hanya karir dan karir ama kebanggaan almamater…
    bagiku dari lembaga pendidikan apapun anda seharusnya kita punya visi sama yaitu menjadi tuan rumah dinegeri sendiri…mau bangga apa kalo alumni ITB, UGM, UI, ITS, dll aja ndak dipercaya untuk ngurus blok cepu ama pemerintahnya sendiri…mau bangga apa kalo semburan lumpur lapindo masih terus mengalir….sekarang yg penting adalah mari jadikan diri kita berguna utk bangsa ini sekecil apapun…coba hitung berapa angka pengangguran yg bisa dikurangi kalo 10% saja dari lulusan ITB, UGM, UI, ITS, dll mampu menciptakan lapangan kerja????………..intinya bukan darimana anda berasal tapi apa yg bisa anda perbuat untuk bangsa…itu yg penting..bukankah ITB, UGM, ITS adalah milik bangsa indonesia juga..harusnya kita bangga dengan semua alumni almamater tersebut..apalagi jika kita semua mampu bersatu membangun negeri ini….

    RONI
    dulu pernah kuliah di itb

  23. cuma sok baik...ehehehee Says:

    ahahahaaaa…
    betul mas…
    yg penting jgn pernah putus asa untuk selalu jd orang yg berguna bagi kebaikan umat manusia…
    gw tau quote yg lumayan nih…eheheheee…
    “all knowledge is precious wether or not it serves the slightest human use”
    eheheheheeee…

    dimanapun kuliahnya ga akan berpengaruh apa2 kalo emang orang nya bejat…
    bukan berarti kualitas suatu institusi itu ga penting…
    tp yg paling penting tuh kualitas INDIVIDU nya…

    cheerio…

  24. umee Says:

    lha kok pada sibuk ngurusin almamater ya. liat tuh, masyarakat pada panik. mikirin himpitan hidup yang makin menjepit. lebih baik mikirin kebaikan bangsa untuk masa depan. mau lulusan ui, ugm, itb, its atau univ manapun ga ada gunanya kalo cuma mikirin diri sendiri.

  25. segasude Says:

    Izin ikut nambahin,
    menurut aku sih darimana asal kita itu tergantung diri kita sendiri dan seberapa kita kita memajukan negara ini.

    Sudut pandang saya yg bukan dari itb,ui,ugm,its.
    saya alumni dari USU, universitas yg serba keterbatasan baik segi hal informasi, bantuan, beasiswa, fasilitas, lowongan kerja khusus buat … dan sebagainya. maklumlah jauh dari jangkauan pusat.
    Jadi wajar aja kalo menurut saya universitas diatas merasa bangga, saling mengakui yg terbaik dan memandang sebelah mata yang lain.
    Dan untuk perlu diketahui, itu belum bisa membuktikan. Saya punya bukti nyata di tempat kerja saya. Maaf, ada alumni itb,ugm yg terlalu bangga sama almamaternya trus jd sepele hal - hal kecil yang terjadi dilapangan, kadang jika lingkungan kerja memiliki tekanan kerja yang lumayan besar, kebanyakan mereka langsung resign. Mereka bisa dibilang terlalu angkuh untuk bertanya atau sharing dengan yang lain apalagi sama operator lapangan atau mencoba ikut terjun sementara seperti operator. Ga semua sih, ada juga yg orangnya asyik.

    Akhirnya pada suatu masalah dilapangan yg diluar teori terjadi, orang2 itu pada bengong, terlalu banyak mikir mungkin dan ga ada solusi. Ya paksa deh aku yang terjun ngatasi masalahnya haha.., jd apa selamanya universitas terbaik itu menghasilkan alumni yg terbaik juga? Itu merupakan tanda tanya besar buat kita.

    Saya pernah dengar kabar bahwa direksi muda PT.PIM yg alumni itb masih mau pegang tools dan ngunci baut kalo lg ada masalah (1 diantara 1.000.000 mungkin). Nah, rekan kerja saya yang belum ada apa2nya dari segi jabatan malah ogah megang tools. Saya juga bingung, dia sarjana teknik atau ekonomi seh. pegang tools aja ga mau haha…, maunya ngitung dan analisis aja, malah kebanyakan meleset lagi haha..(kayak kuliah aja, ini ma uda didunia kerja eui..)

    Akhirnya yang alumni itb resign, dan yang alumni ugm dipecat buat masalah haha… (maaf, cuma oknumnya bukan almamaternya)

    Thanks

  26. HVAC Says:

    ihik…baca blog ini jadi terharu deh..beneran…, kebetulan saya bukan alumni ITB yg bekerja di perusahaan yg isinya 90% adalah alumni ITB apa yang terjadi ya seperti diceritakan di atas kebangaan kelompok yang terlalu tinggi cendrung yang menjadi chauvinisms, akhirnya dampaknya mengecilkan orang lain yg bukan kelompok almamternya, meremehkan kemampuan orang di luar kelompoknya, merasa yang paling hebat, paling pintar dan paling menonjol, luar biasa lah pokoknya bukanya menjelek-jelekan dan mengeneralisir semua alumni ITB seperti itu ada banyak juga sih temen2x alumni ITB yg baik kepribadia-nya dan lebih rendah hati, salah satu cirinya gak mau daftar /aktif di anggota IAITB hehehehehehe…..tapi ya memang seperti itu adanya kondisi di dunia nyata…semua terpulang ke pribadi masing-masing menyombongkan diri atau kelompok dan menganggap diri paling baik, tapi menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain apa gunanya sih??..mending kalau memang merasa yang paling baik tunjukan kalau bisa jadi panutan, berlaku lebih baik, lebih banyak memberikan manfaat untuk orang banyak atau orang di sekitarnya jangan hanya membangkan kelompoknya tanpa ada manfaatnya sama sekali sekali lagi saya sangat setuju….“Khoirunnaas Anfa ahum linnaas” Sebaik-baik manusia adalah yang memberi paling banyak manfaat bagi manusia yang lainnya…….

    HVAC
    Tukang insinyur yg bukan Lulusan ITB

  27. tom Says:

    nambahin, satu lagi…
    pas ospek atau apapun sekarang namanya…suka didoktrin “wahai klean putra-putri terbaik bangsa!…”

    gimana ga kebawa2… :))

  28. andri21 Says:

    sebenarnya wajar bagi manusia untuk membanggakan apa yang dimilikinya, kita aja sering banget banggain kampus kita sendiri, kalo bukan kita yang bangga akan almamater, siapa lagi coba,…
    tapi kita pikir positif aja, kenapa kita mengurusi alumni itb yang bangga akan almamaternya, apa kita IRI dengan reputasi itb, toh itb memang universitas bagus…

  29. mouthwash Says:

    ya ITB kemana-mana lah! go ITB go go go! hajar teruuss! ITB ayo maju maju ayo! ya jelaslah pd gede kepala, gimana nggak? emg yg laen aja tuh pada sirik. weeeeeekkk :P ngebandingin kejauhan nih.. yang menang ya ITB lah.
    HAHAHAHAHAHAHAHAHA
    *ketawa guling2 megang perut puasss

  30. phy Says:

    *lirik atas*

    *geleng-geleng kepala*

    *garuk-garuk kepala*

  31. humble Says:

    Sebetulnya sama aja mas, alumni UGM juga suka menghina2 universitas2 swasta di Yogyakarta….kalian merasa alumni ITB sombong karena kalian merasa minder sama ITB…gampang2nya gini deh, anak2 ITB PASTI bisa diterima di UGM, tapi anak2 UGM BANYAK yg TIDAK BISA DITERIMA di ITB…hayo jujur, berapa anak2 UGM yg masuk ke UGM karena pilihan ke 2 dan pilihan 1 nya adalah ITB? Pasti banyak banget kan? Kalaupun pilihan pertamanya ke UGM pasti karena udah takut ditolak ITB hehe…maaf ya, saya hanya bicara jujur…

  32. 2008 Says:

    WE ARE THE YELLOW JACKET

Leave a Reply